Tampilkan postingan dengan label Download. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Download. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Februari 2014

Pengantar Bisnis




Bisnis adalah kata yang tidak asing bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi. Maka, saya pun mempelajari mata kuliah bisnis oleh dosen Lyna Latifah dan F.X Sukardi..

Pada mata kuliah pengantar bisnis ini, saya mempelajari dari mulai Planning a Business sampai dengan Synthesis of Business Functions, saya pun mempelajari pengenai pengelolaan perusahaan, fungsi perusahaan, tujuan perusahaan beroperasi, faktor-faktor produksi, dan sebagainya.

Dalam ilmu ekonomi, bisnis dalah suatu organisasi yang menjual barang atau jasa kepada konsumen atau bisnis lainnya, untuk mendapatkan laba. Karena itu, ilmu ekonomi tanpa bisnis maka sama saja dengan nol.

Mata kuliah pengantar bisnis sejauh ini tidak terlalu sulit karena kebanyakan membahas teori yang tidak disertai rumus.

Nah, disini saya akan berbagi ilmu kepada kalian semua materi Pengantar Bisnis yang telah saya pelajari selama perkuliahan. Berikut file Powerpoint mata kuliah Pengantar Bisnis terdiri dari 21 Bab. Bisa kalian download di bawah ini :

Download:


Senin, 27 Januari 2014

Latihan Soal Harga Pokok Proses ( HP Proses )

Soal 1

Sebuah perusahaan Sabun “KRIM” memproduksi sabun cuci dengan menggunakan harga pokok proses dan mempunyai satu departemen. Adapun data produksi selama satu periode akuntansi adalah sebagai berikut :

Data Produksi
Barang masuk dalam proses                                                                                        2000 kg
Barang ditransfer                                                                                                        1500 kg
Barang Dalam Proses dengan kondisi (100% BB, dan 70% Biaya Konversi)             500 kg
Data Biaya
BBB                            Rp   4.500.000,00
BTK                            Rp   4.902.500,00
BOP                            Rp   2.775.000,00
Diminta :
a.    Jurnal yang diperlukan
b.   Laporan Biaya Produksi

Soal 2

Sebuah perusahaan kecap “MANIS” berproduksi dengan menggunakan harga pokok proses dua departemen yaitu departemen pengolahan dan departemen pembumbuan. Adapun data biaya produksi selama periode akuntansi adalah sebagai berikut:

Data Produksi                                                           Pengolahan                Pembumbuan
Jumlah barang yang ditransfer                                        2.000 lt                          1.750 lt
BDP (100% BB, 60% Konversi)                                       500 lt                                -
BDP (80% Konversi)                                                              -                                250 lt

Data Biaya
BBB                                                                            Rp 3.750.000
BTK                                                                            Rp 4.600.000              Rp 2.437.500
BOP                                                                            Rp 4.025.000              Rp 1.950.000
Diminta : a) Jurnal yang diperlukan   b) Laporan Biaya Produksi

Soal  3

PT. Leo memproduksi mie dengan menggunakan harga pokok proses melalui dua departemen, yaitu departemen pengolahan dan departemen pembumbuan. Adapun data biaya produksi selama periode akuntansi adalah sebagai berikut:

Data Produksi                                                      Pengolahan                Pembumbuan
Dimasukkan dlm proses                                              30.000                             -
Diterima dari dept A                                                       -                               25.000
Ditransfer ke gudang                                                      -                               22.000
Produk hilang awal proses                                            2.000                           1.000
PDP akhir (100%BB,75% Konversi)                            3.000                             -
PDP akhir (40% BTK, 60% BOP)                                  -                               2.000
Data Biaya
BBB                                                                Rp 84.000.000                            -
BTK                                                                Rp 98.100.000                        Rp 64.980.000
BOP                                                                Rp 89.925.000                        Rp 76.560.000
Diminta :
a.       Jurnal yang diperlukan
b.      Laporan Biaya Produksi

Soal 4

PT. Sagitha merupakan perusahaan manufaktur yang berproduksi secara massal. Berikut ini adalah data produksi dan biaya produksi  pada bulan Februari 2010:
Keterangan
Dept A
Dept B
Produk Masuk Proses
25.000 Kg

Produk ditransfer ke Dept B
20.000 Kg

PDP Akhir (100% BB, 80% BK)
3.000 Kg

Produk hilang akhir proses
2.000 Kg
1.000 Kg
Produk selesai ditransfer ke gudang

17.000 Kg
PDP Akhir (40% BTK, 60% BOP)

2.000 Kg
     BBB
Rp 57.500.000

     BTK
Rp 61.000.000
Rp 20.680.000
     BOP
Rp 73.200.000
Rp 19.200.000

Diminta (1) Perhitungan unit equivalensi (2) Perhitungan transfer barang jadi (3) Perhitungan BDP akhir (4) Jurnal pemakaian biaya-biaya (5) Jurnal transfer ke persediaan barang jadi (6) Jurnal BDP akhir (7) Laporan Biaya Produksi Dept A




Sabtu, 25 Januari 2014

Hukum Bisnis



          Di era perdagangan global, masalah aspek hukum bisnis menjadi hal yang tidak dapat dihindari oleh setiap orang, khususnya mereka yang berkecimpung di dunia bisnis. Akibatnya, aspek hukum bisnis menjadi materi kuliah yang tidak lagi terbatas di fakultas hukum semata. Bahkan untuk dalam ujian sertifikasi akuntan publik, telah ditetapkan mata ujian hukum komersial yang notabene adalah aspek hukum bisnis tersebut.

         Saya hanya ingin berbagi ilmu yang memang saya dapat di bangku perkuliahan. Ada beberapa materi yang saya pikir ini penting untuk dipelajari berkaitan dengan hukum bisnis :

  1. Pendahuluan
  2. Bentuk-Bentuk Badan Usaha
  3. Firma
  4. Gadai & Hipotek
  5. HAKI
  6. Hukum Asuransi
  7. Jual Beli
  8. Kontrak Bisnis
  9. Lembaga Pembiayaan
  10. Merger
  11. Perikatan
  12. Persekutuan Komanditer ( CV )
  13. Perseroan Terbatas ( PT )
  14. Pembuktian dan Daluwarsa


       Untuk itu, silahkan download File nya dibawah ini !

Download File, Klik!





Untuk Kritik, Saran, dan Keluhan silahkan layangkan lewat post komentar dibawah ini, Thanks!

Makalah : Budaya Mencontek





MAKALAH



Budaya Menyontek di Kalangan Pelajar



                                    













Disusun Oleh :



                                                 Nama   : Hendi Apriyanto
                                                 NIM    : 7101412024
                                                 Prodi   : Pendidikan Ekonomi (Akuntansi)






UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

TAHUN 2013





PENDAHULUAN



Kata menyontek mungkin sudah tidak asing lagi bagi pelajar dan mahasiswa. Setiap orang pasti ingin mendapat nilai yang baik dalam ujian, dan sudah tentu berbagai macam cara dilakukan untuk mencapai tujuan itu. Masalah menyontek selalu terkait dengan tes atau ujian. Banyak orang beranggapan menyontek sebagai masalah yang biasa saja, namun ada juga yang memandang serius masalah ini. 



Fenomena ini sering terjadi dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah atau madrasah, tetapi jarang kita dengar masalah menyontek dibahas dalam tingkatan atas, cukup diselesaikan oleh guru atau paling tinggi pada tingkat pimpinan sekolah atau madrasah itu sendiri.



Sudah dimaklumi bahwa orientasi belajar siswa-siswi di sekolah hanya untuk mendapatkan nilai tinggi dan lulus ujian, lebih banyak kemampuan kognitif dari afektif dan psikomotor, inilah yang membuat mereka mengambil jalan pintas, tidak jujur dalam ujian atau melakukan praktek mencontek.



Proses belajar yang orientasinya hanya untuk mendapatkan nilai menurut Megawangi (2005), biasanya hanya melibatkan aspek kognitif (hafalan dan drilling), dan tidak melibatkan aspek afektif, emosi, sosial, dan spiritual. Memang sulit untuk mengukur aspek-aspek tersebut, sehingga bentuk soal-soal pasti hafalan atau pilihan berganda (kognitif). Pelajaran agama, KWN, dan musik yang seharusnya melibatkan aspek afektif, ternyata juga di "kognitifkan" (hafalan) sehingga tidak ada proses refleksi dan apresiasi. 



Karena, menghafal buku teks (yang memang diwajibkan untuk bisa menjawab soal ujian), adalah skill yang paling tidak penting bagi manusia . Jadi, mereka didik hanya menjadi robot; tidak ada inisiatif, dan pasif. Manusia ini biasanya tidak dapat berpikir kritis, dan tidak dapat menganalisis permasalahan, apalagi mencari solusinya, sehingga mudah dipengaruhi dan diprovokasi untuk melakukan hal-hal yang negatif. (Megawangi, 2005).



Pengalaman penulis ketika di Sekolah Dasar budaya menyontek sudah mulai ada, ketika latihan menjawab soal-soal matematika,beberapa teman-teman sudah berani melihat jawaban temanya dan menyalinnya. Di Sekolah Menengah Pertama, penulis menjadi korban teman yang nakal dan malas yang secara tiba-tiba mengambil jawaban penulis dan menyalinnya di lembar jawabannya, perbuatan ini tidak bisa dicegah karena ada rasa takut dan kasihan dengannya. Bahkan terkadang mereka tanpa takut dan malu melihat buku catatan dan meminta jawaban kepada teman yang dianggap pintar ketika ujian. Perbuatan ini mungkin saja diketahui oleh pengawas atau guru mata pelajaran yang diujikan, atau mungkin pula mereka pura-pura tidak tahu, entahlah yang jelas nilai ujian mereka ternyata hasilnya cukup baik.



Anehnya perbuatan menyontek tersebut dibiarkan saja oleh pengawas ujian (pada waktu itu ulangan umum), tidak dilaporkan kepada guru, Meskipun ada guru yang mengetahuinya, mereka tidak menanggapinya dengan serius, tidak memberi teguran serta sanksi sama sekali, mungkin hal tersebut adalah hal biasa saja dan bagian dari usaha para siswa.



Jika tidak ada sanksi, maka orang akan cenderung mengulangi lagi. Jelas ini merugikan siswa-siswi yang rajin belajar, karena objektifitas penilaian tidak ada sama sekali yang dilihat hasil ujian bukan keseluruhan proses dalam pembelajaran. Dan pernah terjadi siswa yang jujur dalam menjawab pertanyaan nilainya lebih rendah daripada siswa yang jelas-jelas menyontek siswa yang jujur tersebut. Akibatnya ia menjadi prustasi, dendam dan marah kepada diri sendiri yang mudah sekali dicontek teman, marah kepada teman yang menyonteknya, marah kepada guru yang memberi nilai yang tidak obyektif. Penulis pernah merasa kecewa sekali ketika ujian salah satu mata pelajaran yang penulis sendiri yakin akan kebenaran jawaban itu tiba-tiba ada pengawas yang menuliskan jawaban itu di papan tulis. Tentu mengembirakan siswa-siswi yang tidak bisa menjawab tetapi mengecewakan siswa-siswi yang benar menjawabnya.



Tetapi ada juga guru yang mempunyai pengalaman yang luas dan mengetahui karakteristik siswanya, sang guru akan curiga jika siswa yang sehari-harinya biasa-biasa saja, ketika ulangan atau ujian nilainya bagus semua, dan semakin curiga lagi jika jawaban siswa tersebut sama persis dengan buku catatan dan sama dengan jawaban anak yang pintar dan duduk didekat atau disebelahnya.



Ketika penulis berada di Sekolah Menengah Atas, masalah ini semakin banyak saja, dan suatu peristiswa yang penulis saksikan seorang juara kelas dibuat malu oleh gurunya karena dicurigai bekerjasama dalam ulangan harian sehingga harus ulangan harian lagi bersama-sama siswa-siswi yang dicurigai menyontek atau bekerja sama. Padahal menurut penulis pada waktu itu tidak mungkin seorang juara kelas menyontek, pasti jawabannya yang dicontek teman yang lain sehingga jawaban mereka sama semua.



Dan masih di sekolah tersebut teman penulis yang nilainya pas-pasan pada semester pertama, dan mendapat rangking di atas 40 dari 50 siswa, tiba-tiba masuk sepuluh besar di kelas itu disebabkan ketika ulangan umum semester kedua ia duduk sebangku dengan juara kelas. Apakah ini adil dan obyektif. 



Dimana pengamatan guru selama ini terhadap siswa-siswinya.

Masih masalah menyontek ternyata di perguruan tinggi semakin canggih lagi, karena ada istilah dikalangan mahasiswa “ngakal tetapi berakal, menyontak pakai otak”. maksudnya menyontek itu tidak sama dengan menyalin pelajaran, ambil intinya saja, atau menggunakan kata-kata lain yang maksudnya sama dengan yang ada di buku dan jawaban teman.



Anehnya perbuatan contek menyontek dikalangan pelajar sampai saat ini masih saja ada, tidak pernah terdengar ada sanksi, skorsing, pengurangan nilai atau pembatalan kenaikan kelas bagi siswa-siswi yang ketahuan menyontek dalam ulangan. Tidak pernah ada dalam rapat orang tua, guru, kepala sekolah, pengawas, dan pembina pendidikan membicarakan masalah menyontek, sekolah seakan menutup diri, seolah-olah semua siswa-siswinya bersih dalam praktek menyontek.


Satu hal lagi yang merugikan para siswa adalah sistem penilaian guru sangat subyektif, kebanyakan menilai jawaban siswa saja, tanpa melihat proses bagaimana ia mendapatkan nilai tersebut, sehingga menimbulkan kerugiaan tidak hanya pada siswa yang pintar tetapi juga pada siswa yang malas.


Jika ini terus dibiarkan saja oleh kita sebagai guru, orang tua murid, pemerhati pendidikan, pejabat pemerintah dan semua komponen masyarakat lainnya, maka dunia pendidikan tidak akan maju, malahan menciptakan manusia tidak jujur, malas, yang cenderung mencari jalan pintas dalam segala sesuatu dan akhirnya menjadi manusia yang menghalalkan segala cara untukmencapai tujuan yang diinginkannya


RUMUSAN MASALAH


  1. Apa itu mencontek ? 
  2. Apa saja kategori mencontek ? 
  3. Bagaimana tinjauan psikologi tentang mencontek ? 



PEMBAHASAN



1. Pengertian menyontek

Menyontek atau menjiplak atau ngepek menurut Kamus Bahasa Indonesia karangan W.J.S. Purwadarminta adalah mencontoh, meniru, atau mengutip tulisan, pekerjaan orang lain sebagaimana aslinya.

Dalam artikel yang ditulis oleh Alhadza (2004) kata menyontek sama dengan cheating. Beliau mengutippendapat Bower (1964) yang mengatakan cheating adalah perbuatan yang menggunakan cara-cara yang tidak sah untuk tujuan yang sah/terhormat yaitu mendapatkan keberhasilan akademis atau menghindari kegagalan akademis. Sedang menurut Deighton (1971), cheating adalah upaya yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan keberhasilan dengan cara-cara yang tidak fair (tidak jujur).



Menurut Suparno (2000). Segala sistem dan taktik penyontekan sudah dikenal siswa. Sistem suap agar mendapat nilai baik, juga membayar guru agar membocorkan soal ulangan, sudah menjadi praktik biasa dalam dunia pendidikan di Indonesia.



Berdasarkan contoh-contoh pengalaman diatas dalam tulisan ini adalah menyontek adalah suatu perbuatan atau cara-cara yang tidak jujur, curang, dan menghalalkan segala cara untuk mencapai nilai yang terbaik dalam ulangan atau ujian pada setiap mata pelajaran



2. Katagori Menyontek

Menyontek dapat dikatagorikan dalam dua bagian ; pertama menyontek dengan usaha sendiri; kedua dengan kerjasama. Usaha sendiri disini adalah dengan membuat catatan sendiri, buka buku, dengan alat bantu lain seperti membuat coretan-coretan dikertas kecil, rumus ditangan, di kerah baju, bisa juga dengan mencuri jawaban teman Kerjasama dengan teman dengan cara membuat kesepakatan terlebih dahulu dan membuat kode-kode tertentu atau meminta jawaban kepada teman.



Dalam makalah yang ditulis Alhadza (2004) yang termasuk dalam kategori menyontek antara lain adalah meniru pekerjaan teman, bertanya langsung pada teman ketika sedang mengerjakan tes/ujian, membawa catatan pada kertas, pada anggota badan atau pada pakaian masuk ke ruang ujian, menerima dropping jawaban dari pihak luar, mencari bocoran soal, arisan (saling tukar) mengerjakan tugas dengan teman, menyuruh atau meminta bantuan orang lain dalam menyelesaikan tugas ujian di kelas atau tugas penulisan paper dan take home test. 



3. Tinjauan Psikologi Tentang Menyontek atau Cheating

Menurut, Dien F. Iqbal, dosen Fakultas Psikologi Unpad, seperti yang dikutip Rakasiwi (2007) orang menyontek disebabkan faktor dari dalam dan di luar dirinya. Dalam ilmu psikologi, ada yang disebut konsep diri dan harga diri. Konsep diri merupakan gambaran apa yang orang-orang bayangkan, nilai dan rasakan tentang dirinya sendiri. Misalnya, anggapan bahwa, "Saya adalah orang pintar". Anggapan itu lalu akan memunculkan kompenen afektif yang disebut harga diri. Namun, anggapan seperti itu bisa runtuh, terutama saat berhadapan dengan lingkungan di luar pribadinya. Di mana sebagai kelompok, maka harus sepenanggungan dan senasib. Senang bersama, duka mesti dibagi. 



Menurut Bandura (dalam Vegawati, Oki dan Noviani, 2004), fungsi psikologis merupakan hubungan timbal balik yang interdependen dan berlangsung terus menerus antara faktor individu, tingkah laku, dan lingkungan. Dalam hal ini, faktor penentu tingkah laku internal (a.l., keyakinan dan harapan), serta faktor penentu eksternal (a.l., "hadiah" dan "hukuman") merupakan bagian dari sistem pengaruh yang saling berinteraksi. Proses interaksi yang terjadi dalam individu terdiri dari empat proses, yaitu atensi, retensi, reproduksi motorik, dan motivasi.



Menurut Vegawati, Oki dan Noviani, (2004), Pada saat dorongan tingkah laku mencontek muncul, terjadilah proses atensi, yaitu muncul ketertarikan terhadap dorongan karena adanya harapan mengenai hasil yang akan dicapai jika ia mencontek. Pada proses retensi, faktor-faktor yang memberikan atensi terhadap stimulus perilaku mencontek itu menjadi sebuah informasi baru atau digunakan untuk mengingat kembali pengetahuan maupun pengalaman mengenai perilaku mencontek, baik secara maya (imaginary) maupun nyata (visual). 



Proses selanjutnya adalah reproduksi motorik, yaitu memanfaatkan pengetahuan dan pengalamannya mengenai perilaku mencontek untuk memprediksi sejauh mana kemampuan maupun kecakapannya dalam melakukan tingkah laku mencontek tersebut. Dalam hal ini, ia juga mempertimbangkan konsekuensi apa yang akan ia dapatkan jika perilaku tersebut muncul. Dalam proses ini, terjadi mediasi dan regulasi kognitif, di mana kognisi berperan dalam mengukur kemungkinan-kemungkinan konsekuensi apa yang akan diterimanya bila ia mencontek. 



Dari teori-teori tentang motivasi, diketahui bahwa cheating bisa terjadi apabila seseorang berada dalam kondisi underpressure, atau apabila dorongan atau harapan untuk berprestasi jauh lebih besar dari pada potensi yang dimiliki. Semakin besar harapan atau semakin tinggi prestasi yang diinginkan dan semakin kecil potensi yang dimiliki maka semakin besar hasrat dan kemungkinan untuk melakukan cheating. Dalam hal seperti itu maka, perilaku cheating tinggal menunggu kesempatan atau peluang saja, seperti kita dengar iklan di televisi mengatakan tentang teori kriminal bahwa kejahatan akan terjadi apabila bertemu antara niat dan kesempatan. 



Pertimbangan-pertimbangan yang sering digunakan adalah nilai-nilai agama yang akan memunculkan perasaan bersalah dan perasaan berdosa, kepuasan diri terhadap "prestasi" akademik yang dimilikinya, dan juga karena sistem pengawasan ujian, kondusif atau tidak untuk mencontek. Masalah kepuasan "prestasi" akademik juga akan menjadi sebuah konsekuensi yang mungkin menjadi pertimbangan bagi seseorang untuk mencontek. Bila ia mencontek, maka ia menjadi tidak puas dengan hasil yang diperolehnya. 



Yesmil Anwar (dalam Rakasiwi, 2007) mengatakan, sebenarnya nilai hanya menjadi alat untuk mencapai tujuan dan bukan tujuan dari pendidikan itu sendiri. Karena pendidikan sejatinya adalah sebuah proses manusia mencari pencerahan dari ketidaktahuan. Yesmil Anwar, mengungkapkan, bahwa menyontek telanjur dianggap sepele oleh masyarakat. Padahal, bahayanya sangat luar biasa. Bahaya buat si anak didik sekaligus untuk masa depan pendidikan Indonesia. Ibarat jarum kecil di bagian karburator motor. Sekali saja jarum itu rusak, mesin motor pun mati.



Analisis Masalah



Dalam tulisan ini penulis ingin memaparkan kenapa perbuatan mencontek sering terjadi dikalangan pelajar, apa dampaknya dan bagaimana mengatasinya.



Menurut Alhadza (2004) dalam makalahnya mengenai masalah menyontek yang ia istilahkan dengan cheating menyebarkan kuesioner dengan pertanyaan terbuka kepada sekitar 60 orang teman mahasiswa di PPS UNJ. Dari hasil kuisioner tersebut didapatkan jawaban tentang alasan seseorang melakukan cheating dengan pengelompokan sebagai berikut.


  1. Karena terpengaruh setelah melihat orang lain melakukan cheating meskipun pada awalnya tidak ada niat melakukannya. 
  2. Terpaksa membuka buku karena pertanyaan ujian terlalu membuku (buku sentris) sehingga memaksa peserta ujian harus menghapal kata demi kata dari buku teks. 
  3. Merasa dosen/guru kurang adil dan diskriminatif dalam pemberian nilai. 
  4. Adanya peluang karena pengawasan yang tidak ketat. 
  5. Takut gagal. Yang bersangkutan tidak siap menghadapi ujian tetapi tidak mau menundanya dan tidak mau gagal. 
  6. Ingin mendapatkan nilai tinggi tetapi tidak bersedia mengimbangi dengan belajar keras atau serius. 
  7. Tidak percaya diri. Sebenarya yang bersangkutan sudah belajar teratur tetapi ada kekhawatiran akan lupa lalu akan menimbulkan kefatalan, sehingga perlu diantisipasi dengan membawa catatan kecil. 
  8. Terlalu cemas menghadapi ujian sehingga hilang ingatan sama sekali lalu terpaksa buka buku atau bertanya kepada teman yang duduk berdekatan. 
  9. Merasa sudah sulit menghafal atau mengingat karena faktor usia, sementara soal yang dibuat penguji sangat menekankan kepada kemampuan mengingat. 
  10. Mencari jalan pintas dengan pertimbangan daripada mempelajari sesuatu yang belum tentu keluar lebih baik mencari bocoran soal. 
  11. Menganggap sistem penilaian tidak objektif, sehingga pendekatan pribadi kepada dosen/guru lebih efektif daripada belajar serius. 
  12. Penugasan guru/dosen yang tidak rasional yang mengakibatkan siswa/mahasiswa terdesak sehingga terpaksa menempuh segala macam cara. 
  13. Yakin bahwa dosen/guru tidak akan memeriksa tugas yang diberikan berdasarkan pengalaman sebelumnya sehingga bermaksud membalas dengan mengelabui dosen/guru yang bersangkutan. 



Dampak yang timbul dari praktek menyontek yang secara terus menerus dilakukan akan mengakibatkan ketidakjujuran Jika tidak, niscaya akan muncul malapetaka: peserta didik akan menanam kebiasaan berbuat tidak jujur, yang pada saatnya nanti akan menjadi kandidat koruptor. (Poedjinoegroho, 2006) 


Pengajaran yang orientasinya siswa mampu menjawab soal dan bukan pada pengertian serta pengembangan inovasi dan kreatifitas siswa akan menumbuhkan kebosanan, kejenuhan, suasana monoton yang dapat berakibat stress. Sudah waktunya sistem pendidikan kita bersifat two way communication antara guru/dosen dan siswa/mahasiswa. Kelompok kerja makalah, presentasi, pembuatan alat peraga, studi lapangan (misalnya ke pabrik salah satu orang tua siswa) kiranya lebih digiatkan daripada menimbuni siswa/mahasiswa dengan soal-soal yang banyak tapi dikerjakan dengan menyontek. (Widiawan,1995)



Jika masalah mencontek ini masih saja dianggap sepele oleh semua orang, tidak akan respon dan tanggapan dari guru, kepala sekolah, pengawas, dinas pendidkan para pakar pendidikan dan pengambil kebijakan dalam bidang pendidikan, penulis pesimis dunia pendidikan akan maju, kreatifitas siswa akan hilang yang tumbuh mungkin orang-orang yang tidak jujur yang bekerja disemua sektor kehidupan.


Memproses Dokumen Dana Kas Kecil






Lihat lebih lengkap : Download File!!


BAB I
PENDAHULUAN


A.   Deskripsi
Bahan ajar ini berjudul ”Memproses dokumen dana Kas Kecil”, di mana ruang lingkupnya adalah memproses dokumen dana kas kecil, mengidentifikasi mutasi dana kas kecil, mencatat mutasi dana kas kecil ke buku kasir dan menyusun laporan mutasi dana kas kecil. Bahan ajar ini berkaitan dengan bahan ajar-bahan ajar sebelumnya, yaitu memproses dokumen dana kas Bank, Mengelola Bukti Transaksi, mengelola jurnal, mengelola buku besar.
Hasil belajar yang diharapkan adalah, peserta didik mampu memproses dokumen dana kas kecil mulai dari pembentukan, pengisian kembali sampai dengan penyusunan laporan.
Manfaat penguasaan bahan ajar ini di dunia kerja, mampu menjadi teknisi akuntansi yang menangani penerimaan dan pengeluaran uang yang tidak dilakukan dengan menggunakan cek, serta dapat menyusun laporannya.
B.   Prasyarat
Sebelum mempelajari bahan ajar ini, peserta didik sudah harus menguasai bahan ajar sebelumnya, yaitu memproses dokumen dana kas Bank. Kemudian sudah adanya Standar Operasi Prosedur (SOP) untuk pengelolaan administrasi dan kas kecil. Mampu mengoperasikan peralatan manual dan komputer. Menguasai etika komunikasi secara lisan dan tulisan dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
C.   Petunjuk Penggunaan Bahan Ajar
Penjelasan bagi siswa:
-          Bacalah dengan cermat rumusan tujuan akhir dari kegiatan belajar ini yang memuat:
a.    Kinerja yang diharapkan
b.    Kriteria Keberhasilan
c.    Kondisi yang diberikan dalam rangka membentuk kompetensi kerja yang akan dicapai melalui bahan ajar  ini.
-          Bacalah dengan cermat dan pahami dengan baik daftar pertanyaan pada ”cek kemampuan” sebagai pengukur kompetensi yang harus dikuasai.
-          Diskusikan dengan sesama peserta diklat apa yang Anda cermati untuk mendapatkan pemahaman yang baik tentang tujuan belajar dan kompetensi yang ingin dicapai dalam bahan ajar ini. Bila masih ragu, maka tanyalah pada instruktur sampai paham.
-          Bacalah dengan cermat ”peta kedudukan modul, prasyarat dan pengertian dari istilah-istilah sulit dan penting dalam modul ini”.
-          Bacalah dengan cermat materi setiap kegiatan belajar, rencana kan kegiatan belajar, kerjakan tugasnya dan jawablah pertanyaan test kemudian cocokkan dengan kunci jawaban. Lakukan kegiatan ini sampai tuntas mengasai hasil yang diharapkan.
-          Bila dalam proses pemahaman materi Anda mendapatkan kesulitan, maka diskusikan dengan teman-teman Anda/konsultasikan ke Instruktur.
-          Setelah Anda menuntaskan semua kegiatan belajar dalam modul ini, Anda boleh melanjutkan ke modul berikutnya.
-          Anda tidak dibenarkan melanjutkan ke kegiatan belajar berikutnya bila belum menguasai secara tuntas materi pada kegiatan belajar sebelumnya.
-          Setelah semua modul untuk mencapai satu kompetensi telah tuntas dipelajari, maka ajukanlah uji kompetensi dan sertifikasi.
Peran Guru/Fasilitator/Instruktur:
-          Membantu peserta diklat merencanakan dalam kegiatan belajar
-          Membantu peserta diklat memahami konsep, praktik baru dan menjawab pertanyaan-pertanyaan siswa.
-          Membantu peserta diklat untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan lain yang diperlukan untuk belajar.
-          Mengorganisasikan Kegiatan Belajar kelompok.
-          Mencatat pencapaian kemajuan belajar siswa peserta diklat.
-          Melaksanakan penugasan dan penilaian.
-          Memberi penjelasan kepada peserta diklat mengenai bagian yang perlu untuk dibenahi dan merundingkan rencana pembelajaran selanjutnya.
D.   Tujuan Akhir
Setelah berakhir mempelajari bahan ajar ini peserta diklat diharapkan mampu menguasai:
-          Mempersiapkan pengelolaan administrasi dan kas kecil
-          Menghitung Mutasi dana Kas Kecil
-          Menghitung selisih dana kas kecil
-          Mengisi dana kas kecil
-          Mencatat mutasi dan selisih dana kas kecil






Untuk Kritik, Saran, dan Keluhan silahkan layangkan lewat post komentar dibawah ini, Thanks!

PENILAIAN SURAT BERHARGA




Dalam PSAK NO.13 dinyatakan bahwa “investasi yang diklasifikasikan sebagai aktiva lancar harus dicatat dalam neraca pada nilai terendah antara biaya dan nilai pasar”


PRINSIP AKUNTANSI INDONESIA menyebutkan bahwa :

“ Surat berharga yg segera dapat dijual dinyatakan dalam neraca sebesar harga perolehan atau harga terendah antara harga perolehan dan harga pasar”.



Berdasarkan prinsip di atas, ada dua metode penilaian surat berharga yaitu:
1. Metode harga perolehan/pokok
2. Metode harga terendah antara harga perolehan dengan harga pasar.





1. Metode Harga Perolehan/ Harga Pokok (cost method)

Dalam metode ini, surat berharga dicantumkan sebesar harga perolehannya. Metode ini tdk mengakui thdp keuntungan dari kenaikan/ penurunan kurs surat-surat berharga.

Contoh soal:

  1. Tanggal 23 des 2003, PT. Trukindo membeli saham biasaPT.Express 1000lbr@Rp1.450. Provisi dan materaiRp 150.000.
  2. Tanggal 29 des 2003, PT. Trukindo menjual saham biasa PT. PT.Express 500lbr@Rp 2.000.Provisi dan materai Rp200.000.

Berapakah Nilai Surat Berharga yang dimiliki oleh PT. Trukindo per 31 desember. Dengan metode Harga Perolehan ?


Penjelasan :

Pembelian tgL 23/12/03 
Harga 1000Lbr X Rp 1.450= Rp 1.450.000
Provisi & Materai Rp 150.000+
Cost 23/12/03 Rp 1.600.000
Penjualan tgL 29/12/03
Harga 500Lbr X Rp 2.000 = Rp 1.000.000
Povisi & Materai Rp 200.000-
Cost. Rp 800.000

Informasi :
Lembar saham tinggal 500Lbr ( 1000Lbr-500Lbr )
Cost per 31 Des 2003 =Rp1.600.000 - Rp800.000 = Rp 800.000

Jadi pada Tgl 31 Des 2003 Surat berharga dicatat sebesar Harga Perolehan yaitu 
Rp 800.000,-


2. Metode Harga Terendah antara cost dgn Harga Pasar ( lower of cost Or Market Method ).

Dlm metode ini, surat berharga dicantumkan sebesar harga terendah antara H.pokok dan H. pasarnya.,adanya kerugian 
akan diakui yaitu selisih Harga pokok dan H.Pasar, dengan pencatatan sebagai berikut :
Rugi Penurunan Nilai Surat Berhaga                   Rp XXX
      Cadangan penurunan nilai surat berharga                          Rp XXX

Dengan metode ini, Terbagi 2 cara yang dapat diterapkan kepada surat berharga yaitu:
  • Diterapkan kepada jumlah seluruh surat berharga
  • Diterapkan kepada masing-masing surat berharga

Contoh : 

Daftar surat-surat berharga yang dimiliki PT.SINGOSARI per 31 Des 2003 sebagai berikut :

Keterangan
Harga Perolehan
Harga Pasar
LOCOM
100 lbr obligasi PT.Baruna12%
100 lbr saham preferen PT.Rajawali 12%
200 lbr saham biasa PT.Barito
Rp.505.000
Rp.1.040.000
Rp.  990.000
Rp.512.000
Rp.1.020.000
Rp.975.000
Rp.505.000
Rp.1.020.000
Rp.975.000
JUMLAH
Rp 2.535.000
Rp 2.507.000
Rp. 2.500.000



1. DITERAPKAN PADA SELURUH SURAT BERHARGA

Jika diterapkan kepada jumlah seluruh surat berharga, maka :

surat berharga yang tercantum dineraca Rp.2.507.000

HP           = Rp 2.535.000

H.Pasar    = Rp 2.507.000

selisih      = Rp.     28.000


Jurnal

Rugi penurunan nilai SB                  Rp. 28.000,-
       cadangan penurunan nilai SB                           Rp. 28.000,-





2. DITERAPKAN PADA SETIAP SURAT BERHARGA

Jika diterapkan kepada masing-masing elemen surat berharga,maka surat berharga yang tercantum dineraca Rp.2.500.000

HP              Rp.2.535.000

H.pasar       Rp.2.500.000

Ada selisih   Rp     35.000



Jurnal

Rugi penurunan nilai surat berharga                  Rp. 35.000,-
              cadangan penurunan nilai surat berharga                   Rp. 35.000,-




Bagaimana jika surat berharga di jual ?



Cadangan penurunan nilai surat berharga ini akan dihapuskan apabila surat-surat berharga tersebut dijual.

sebagai contoh:

Jika pada tangal 4 Januari PT.SINGASARI menjual 
200 lembar saham PT.BARITO, provisi dan materai Rp 500.000 dgn Kurs 75%.
( Harga perolehan /lembar Rp. 9.000 )


jawab:

Harga kurs 200 lbr PT.BARITO = 200 X Rp.9.000 X 75%  = Rp 1.350.000 
Provisi dan materai 1%                                                    = Rp    500.000
nilai jual (kas )                                                                                       Rp 850.000
Harga perolehan                                          Rp 990.000 
Cad. Penurunan nilai surat berharga               Rp  15.000
                                                                                                            Rp 975.000

Rugi penjualan Surat berharga                                                                  Rp 125.000




Maka Jurnalnya pada tgL 4 Januari 2003 :

Kas                                 Rp 850.000
Cad. Penurunan nilai SB    Rp   15.000
Rugi penjualan SB             Rp 125.000
              Surat Berharga                          Rp 990.000








Untuk Kritik, Saran, dan Keluhan silahkan layangkan lewat post komentar dibawah ini, Thanks!

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Heartline "Plasst~ - Premium Blogger Themes | coupon codes